Rabu, 26 September 2018

Badan Sudah Ideal Tapi Masih Dibilang Gemukan, Apa Penyebabnya?

Badan Sudah Ideal Tapi Masih Dibilang Gemukan, Apa Penyebabnya?

Hati-hati dengan pola makan dan bobot tubuh. Jika terlalu gemuk atau terlalu kurus tentu tak baik bagi kesehatan. Tubuh ideal bisa dilihat dari status gizi. Status gizi orang dewasa bisa diketahui dengan menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT).





Rumusnya adalah berat badan dalam satuan kilogram dibagi dengan hasil kali antara tinggi badan dan tinggi badan dalam satuan meter. Contoh, misalnya tinggi badan Budi adalah 170 centimeter dan berat badannya 55 kilogram, maka IMT-nya adalah 55 dibagi dengan hasil kali 1,7 dikali 1,7. Hasilnya adalah 19,03. Apakah itu ideal?

Menurutnya, pandangan mata bisa menipu status gizi seseorang. Bahkan body image seseorang terhadap dirinya pun bisa salah. Misalkan umumnya ibu-ibu merasa gemuk, padahal IMT-nya masih normal.

“Mungkin juga terlihat kurus, padahal IMT-nya masih normal, bisa juga terlihat gemuk namun sebenarnya juga masih normal. Jadi IMT tetap harus dihitung,” katanya.

Menurut Rani, gemuk atau kurusnya seseorang dihasilkan dari proses yang lama. Seseorang yang asupan energi dari makannya lebih banyak dibanding pengeluaran energinya, maka lama kelamaan dia akan gemuk. “Asupan energi > pengeluaran energi menjadi gemuk,” ungkapnya,

Sebaliknya orang yang asupan makannya lebih rendah dari pengeluaran energi, maka lama kelamaan dia akan turun IMT dan menjadi kurus. “Asupan energi < pengeluaran energi menjadi kurus.




Kita semua pasti memiliki sesuatu yang tidak disukai tentang penampilan kita – hidung pesek, kulit gelap, atau mata yang terlalu kecil. Biasanya keluhan ini hanya bersifat selewatan karena kita menyadari itu hanyalah bagian dari ketidaksempurnaan kita sebagai manusia. Tapi lain ceritanya bagi beberapa orang yang merasa tidak puas sehingga sangat terobsesi dengan "kecacatan" tubuhnya. Penting bagi mereka untuk mati-matian berusaha memiliki bentuk tubuh ideal agar bisa diterima oleh masyarakat. Jika Anda seperti ini, mungkin tandanya Anda memiliki gejala body dysmorphic disorder.


Apa itu body dysmorphic disorder (BDD)?


Body dysmorphic disorder (BDD) adalah satu jenis gangguan jiwa yang terkait dengan obsesi kuat terhadap citra tubuh (body image) negatif. BDD ditandai dengan tidak henti-hentinya memikirkan dan mengkhawatirkan tentang ‘cacat’ fisik dan penampilan tubuh, atau memfokuskan perhatian yang sangat berlebihan tentang kekurangan tubuh tertentu Pada kenyataannya, "cacat" yang dirasakan/dibayangkan mungkin hanya berupa ketidaksempurnaan minim, misalnya mata sipit atau postur yang pendek, atau bahkan tidak ada sama sekali – merasa gendut/jelek meski sebenarnya tidak. Bagi orang lain yang melihatnya, itu tidak menjadi masalah. Tapi untuk mereka, "cacat" tersebut dinilai sangat besar dan mengganggu sehingga menyebabkan stres emosional yang parah dan menurunkan kepercayaan diri hingga ke tingkat rendah diri.  

Penderita BDD dapat melakukan beberapa jenis perilaku obsesif-kompulsif (tidakan berulang tanpa disadari) untuk mencoba menyembunyikan atau menyamarkan kekurangan mereka meskipun perilaku ini biasanya hanya memberikan jalan keluar sementara, contohnya: kamuflase makeup, ukuran baju, gaya rambut, terus menerus bercermin atau justru menghindarinya sama sekali, menggaruk kulit, dan sebagainya. Beberapa orang dengan BDD mungkin akan berpikir untuk melakukan operasi plastik untuk memperbaiki penampilannya.

Apa yang biasanya menjadi obsesi para BDD?

Orang dengan body dysmorphic disorder biasanya amat sangat terobsesi dengan kekurangan fisiknya, yang tidak sesuai dengan ekspekstasi dirinya sendiri yang menurutnya juga tidak sesuai dengan "standar" tubuh ideal di tengah masyarakat. Misalnya:

1.Kulit: seperti kulit keriput, bekas luka, jerawat, dan noda hitam. Orang BDD terobsesi untuk memiliki kulit yang indah dan mulus. Sedikit luka atau jerawat yang merusak penampilan kulitnya dapat membuat orang dengan BDD panik.

2.Rambut: termasuk rambut kepala atau rambut di bagian tubuh. Mereka mungkin ingin memiliki rambut kepala yang tergerai indah dan sehat, serta tidak ingin mempunyai rambut di bagian tubuh tertentu, seperti ketiak dan kemaluan.

3.Fitur wajah: seperti ingin punya hidung mancung, dagu panjang, pipi tirus, bibir lebih tebal, dan lainnya.

4.Berat badan: orang dengan BDD biasanya terobsesi mempunyai berat badan ideal atau mempunyai otot yang kekar.

5.Bagian tubuh lain: seperti payudara dan bokong yang ingin terlihat lebih berisi, penis yang ingin lebih besar, dan lainnya.





Apa penyebab BDD?

Penyebab BDD tidak diketahui pasti. Tetapi faktor biologis dan lingkungan tertentu dapat berkontribusi untuk pengembangannya, termasuk kecenderungan genetik, faktor neurobiologis seperti gangguan fungsi serotonin di otak, ciri-ciri kepribadian, pengaruh sosial media dan keluarga hingga teman, serta budaya dan pengalaman hidup.  Pengalaman traumatis atau konflik emosional selama masa kecil serta tingkat kepercayaan diri yang rendah juga dapat meningkatkan risiko Anda mengalami BDD. Oleh karena itu, tingkat kepercayaan diri penting ditanamkan sejak dini.

Bagaimana gejala BDD?

BDD dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk pekerjaan, kehidupan sosial, dan hubungan. Hal ini karena orang dengan BDD punya pandangan menyimpang tentang diri mereka sendiri dan hanya memusatkan perhatian mereka ke kekurangan mereka sendiri, sehingga kurang bisa memerhatikan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, gejala BDD penting untuk diketahui agar perkembangannya bisa lebih awal dihentikan. Beberapa tanda awal seseorang mungkin memiliki BDD adalah:

1.Suka membandingkan penampilannya dengan orang lain.

2.Suka berperilaku berulang dan menyita waktu, seperti bercermin atau mencoba menyembunyikan atau menutupi cacat pada kulit.

3.Selalu bertanya pada orang sekitarnya bahwa cacat yang ada dipenampilannya terlihat atau tidak.

4.Berulang kali memperhatikan atau menyentuh cacat yang dirasakan.

5.Merasa cemas atau tidak ingin berada di sekitar orang banyak.

6.Melakukan diet dan/atau olahraga berlebihan.

Berulang kali berkonsultasi dengan spesialis medis, seperti ahli bedah plastik atau dokter kulit, untuk memperbaiki penampilannya.Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh mungkin dapat memicu orang dengan BDD untuk diet ekstrim sehingga memicu anoreksia, bulimia, atau gangguan makan lainnya. Beberapa orang dengan BDD dapat berpikiran untuk bunuh diri atau melakukan upaya bunuh diri karena merasa gagal memiliki bentuk tubuh idaman akibat “tubuh cacat” yang dimilikinya.


Bagaimana cara mengatasi body dysmorphic disorder?

Body dysmorphic disorder seringnya tidak disadari oleh si pempunya tubuh sehingga mereka menghindari untuk membicarakan gejalanya. Tapi penting untuk segera berkonsultasi ke dokter begitu Anda menyadari gejala awalnya. Dokter dapat mendiagnosis Anda dari riwayat medis dan pemeriksaan fisik atau merujuk ke ahlinya (psikiater, psikolog) untuk penilaian yang lebih baik. Terapi perilaku kognitif bersama dengan obat-obatan cukup efektif dan paling sering dijadikan rencana pengobatan BDD.

2 komentar: